Menjelang
Pilkada 2011 ini, Dogiyai mulai kisruh. Aroma persaingan dengan berbagai
manuvernya sudah memanaskan publik. Kursi nomor satu di Kabupaten berumur tiga
tahun ini menjadi rebutan. Sementara, cita-cita yang ingin diraih lewat
pemekaran kian tak terwujud. Mengapa begitu?
Tujuan Konseptual Pemekaran
Pemekaran atau
desentralisasi diadakan dengan beberapa alasan. Dilihat dari perspektif
pemerintah pusat, desentralisasi memiliki beberapa tujuan.
Pertama, untuk
perimbangan kekuasaan antara pusat dan daerah sehingga terbangun iklim politik
yang sehat dalam suatu negara. Desentralisasi diperlukan untuk menjaga
stabilitas politik.
Kedua, untuk
pendidikan politik. Siapa yang didik? Seluruh warga di daerah otonom. Sebagai
warga suatu daerah otonom, individu-individu mesti berperan serta dalam
menentukan kehidupan bersama mereka. Masing-masing memiliki tanggung jawab
terhadap kebijakan-kebijakan di daerah otonomnya. Entah elite politik maupun
penduduk biasa, semua bisa terlibat.
Desentralisasi
meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemerintah lokal dalam menyelesaikan
masalah mereka. Masyarakat lokal diberi ruang yang cukup untuk berpartisipasi
dalam mengurusi wilayahnya. Inilah demokratisasi: masyarakat lokal memiliki
kesempatan yang cukup untuk terlibat dalam pengambilan keputusan publik.
Keputusan publik, dengan demikian, mendapatkan dukungan yang lebih kuat.
Ketiga,
desentralisasi atau pemekaran adalah untuk pelatihan kepemimpinan. Pemerintah
pusat memiliki kepentingan terhadapa pemimpin-pemimpin yang cakap di daerah.
Jelas, desentralisasi membuka ruang yang luas untuk lahirnya pemimpin-pemimpin
baru di tingkal lokal.
Keempat,
desentralisasi adalah untuk mewujudkan demokratisasi sistem pemerintahan di
daerah. Dengan diberi kewenangan yang lebih luas, daerah otonom bisa
menyelenggarakan sistem pemerintahan yang demokratis; yang memberikan ruang
cukup luas bagi partisipasi masyarakat.
Sementara jika
desentralisasi dilihat dari kepentingan daerah, ada beberapa makna. Pertama,
desentralisasi bermakna sebagai political equality (kesetaraan politik):
masyarakat berkesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas politik di
daerah.
Kedua, adalah
untuk membangun local accountability. Artinya, desentralisasi akan meningkatkan
kemampuan pemerintah daerah untuk memerhatikan hak-hak masyarakatnya. Karena
pemerintah lokal lebih dekat dengan para konstituennya, pemerintah daerah
diandaikan dapat memberikan layanan publik yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakatnya.
Ketiga, adalah
untuk membangun local responsiveness. Asumsinya, pemerintah daerah lebih
mengerti berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya. Oleh sebab itu,
desentralisasi diharapkan dapat mempermudah antisipasi terhadap berbagai
masalah dan sekaligus mempercepat pembangunan di wilayah itu.
Secara teoritis,
tujuan-tujuan pemekaran adalah sesuai dengan yang penulis paparkan di atas.
Idealnya, pemekaran suatu daerah (atau pembentukan suatu daerah otonom) akan
memberikan dampak yang sangat substansial untuk masyarakatnya.
Kapasitas Birokrasi Dogiyai?
Dari keluhan-keluhan
dan protes-protes masyarakat yang bergelombang tanpa henti, penulis menangkap
bahwa tujuan-tujuan pemekaran itu masih belum capai. Atau, bahkan belum ada
tanda-tanda usaha untuk mencapainya.
Masyarakat
berteriak-teriak meminta pembangunan infrastruktur untuk melancarkan aktivitas
ekonomi penduduk. Jalan-jalan masih kunjung belum dibangun. Sarana-sarana umum
perlu diperhatikan.
Layanan
kesehatan terbukti masih buruk. Tidak sedikit penduduk yang meninggal karena
wabah kolera yang tidak lekas ditangani. Pemerintah nyata-nyata abai dalam
kasus ini. Penduduk yang menjadi korban langsung.
Lebih lucu lagi,
pemerintah cenderung tidak memerhatikan kebutuhan penduduk akan identitas
(KTP). Padahal, tanpa KTP penduduk kesulitan mengakses layanan-layanan publik yang
lain.
Selanjutnya,
mahasiswa asal Dogiyai juga menuntut agar pemerintah segera mengalirkan dana
bantuan pendidikan. Pemerintah diam ketika terjadi kerusuhan beberapa waktu
lalu.
Dalam berbagai
bidang, Dogiyai disesaki oleh protes-protes dengan nada sangat kecewa dari
masyarakat. Fenomena ketidakpuasan mengatakan satu hal yang cukup mendasar.
Pemekaran menjadi hampa makna, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke
bawah.
Tentulah,
masalahnya bukan melulu pada pemekaran. Masalah utama yang lebih urgen untuk
diatasi adalah kapasitas birokrasi Dogiyai.
Keberhasilan
implementasi kebijakan, selain dipengaruhi oleh isi kebijakan (content of
policy) dan konteks kebijakan (context of policy) atau kondisi-kondisi yang
melingkungi kebijakan itu, lebih-lebih dipengaruhi oleh kapasitas birokrasi.
Sebaik apapun kebijakan, jika kapasitas birokrasinya buruk, tidak akan banyak
berarti.
Kapasitas
birokrasi mencakup banyak hal: mulai dari pengetahuan, kecakapan, mentalitas,
sampai leadership. Untuk mengimplementasikan kebijakan, birokrasi harus
mengerti sungguh-sungguh tujuan kebijakan yang ingin diraih. Selain itu, mereka
juga harus mengerti cara-cara (strategi) untuk mewujudkan cita-cita itu—yaitu
strategi yang bisa memenangkan masyarakat sebagai subyek kebijakan. Karena itu,
kapasitas dalam hal ini mencakup baik pengetahuan teoritis maupun pengetahuan
praktis (keterampilan).
Maka, orang
nomor satu dalam birokrasi (eksekutif) hendaknya orang yang sungguh-sungguh
paham dengan kebijakan—dalam hal ini pemekaran. Jika cukup rendah hati dan
mengakui kurang mengerti, dia hendaknya mengangkat asisten-asisten yang cukup
cakap membantunya.
Implisit dalam
pemikiran di atas adalah bahwa tidak semua orang bisa dijadikan birokrat. Atau,
pemerintah mesti menyelenggarakan sistem rekruitmen birokratnya dan masyarakat
mesti mengontrol kinerja aparatnya. Secara berkala, masyarakat melalui
perwakilan di parlemen meminta eksekutif memberikan pertanggungjawaban.
Masyarakat Dogiyai Menilai
Gagasan
menjadikan Dogiyai sebagai kabupaten sendiri tidak lepas dari cita-cita
mempercepat pembangunan di daerah itu. Harapannya, kesejahteraan masyarakat
dalam waktu yang relatif singkat sudah meningkat. Sebagian fasilitas umum
dibangun dan difungsikan. Anak-anak bisa bersekolah dengan semangat karena
cukup gizi; dididik oleh guru-guru yang dedikatif. Tidak beberapa hari di atas
lalu menghilang.
Pemekaran
dirancang agar pemerintah bisa selekasnya mengidentifikasi masalah-masalah
utama di Dogiyai untuk diselesaikan sesuai dengan aspirasi masyarakat setempat.
Di samping itu, langkah ini juga ditempuh dalam rangka mewujudkan pembangunan
yang lebih demokratis, yang menjamin partisipasi masyarakat lokal dalam
mengembangkan wilayahnya.
Menyaksikan
perkembangan Dogiyai sejak pemekaran hampir tiga tahun lalu, masyarakat Dogiyai
dapat menilai: perkembangan sejauh ini berlawanan dengan cita-cita pemekaran.
Penyebab yang paling menonjol adalah lemahnya kapasitas birokrasi dalam
mengimplementasikan kebijakan pemekaran.
Jelas, jika
Dogiyai ingin berkembang di masa depan, birokrasi sekarang ini harus dipandang
sebagai salah satu persoalan pokok. Birokrasi masih berpotensi menjadi masalah
jika tidak secara serius diatasi. Kebijakan-kebijakan apapun, baik dari
pemerintah pusat maupun kebijakan yang ditetapkan di tingkat lokal, akan
terhambat oleh kapasitas birokrasi yang justeru kurang menunjang cita-cita
pemekaran.
Dogiyai
membutuhkan sosok yang memiliki kepemimpinan kuat dan energik untuk mengatasi
permasalah birokrasi, yang setia dengan gagasan pemekaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar